Sabtu, 09 Mei 2015



Seni Bergembira
D
i antara kenikmatan terbesar adalah kegembiraan, ketentraman, dan ketenangan hati. Sebab, dalam kegembiraan hati itu terdapat keteguhan pikir, produktifitas yang bagus, dan keriangan jiwa. Kata banyak orang, kegembiaraan merupakan seni yang dapat dipelajari. Artinya, siapa mengetahui cara memperoleh, merasakan dan menikmati kegembiraan, maka ia akan dapat memanfaatkan perbagai kenikmatan dan kemudahan hidup, baik yang ada di depannya maupun yang masih jauh berada di belakngnya. Adapun modal utama untuk merahi kebahagiaan adalah kekuatan atau kemampuan diri untuk menanggung beban kehidupan, tidak mudah goyah oleh goncangan-goncangan, tidak gentar oleh peristiwa-peristiwa, dan tidak pernah sibuk memikirkan hal-hal kecil yang sepele. Begitulah, semakin kuat dan jenih hati seseorang, maka akan semakin bersinar pula jiwanya.
Hati yang tidak sabar, lemah tekad, rendah semangat, dan selalu gelisah tak ubahnya dengan gerbong kereta ynag mengangkut kesedihan, kecemasan, dan kekhawatiran. Oleh sebab itu, barang siapa membiasakan jiwanya bersabar dan tahan terhadap segala benturan, niscaya goncangan apapun dan tekanan dari manapun akan terasa ringan.
Kala seorang jelata dalam kesengsaraan
Ringan baginya untuk mendaki gundukan lumpur
Di antara musuh utama kegembiraan adalah wawasan yang sempit, pandangan picik, dan egoisme. Karena itu, Allah melukiskan musuh-musuh-Nya adalah sebagaimana berikut:
‘’Mereka dicemaskan oleh diri mereka sendiri’’. (QS. Ali ‘Imran: 154)
Orang berwawasn sempit senantiasa melihat seluruh alam ini seperti apa yang mereka alami. Mereka tidak pernah memikirkan apa yang terjadi pada orang lain, tidak pernah hidup untuk orang lain, dan tidak pernah memperhatikan sekitarnya. Memang ada kalanya kita harus memikirkan diri kita sendiri dan menjaga jarak dari sesama, yaitu tatkala kita sedang melupakan kepedihan, dan kessdihan kita. Dan, itu artinya kita dapat mendapatkan dua hal secara bersamaan, membahagiakan diri kita dan tidak merepotkan orang lain.
Satu hal mendasar dalam seni mendapatkan kegembiraan adalah bagaimana mengendalikan dan menjaga pikiran agar tidak terpecah. Apalagi bila Anda tidak mengendalikan pikiran Anda dalam setiap melakukan sesuatu, niscaya ia tak akan terkendali. Ia akan mudah membawa Anda pada berkas-berkas kesedihan masa lalu. Dan pikiran liar yang tak terkendali itu tak hanya akan menghidupkan kembali luka lama, tetapi juga membisikan masa depan yang mencekam. Ia juga dapat membuat tubuh gemetar, kepribadian goyah, dan perasaam terbakar. Karena itu, kendalikan pikiran Anda kearah yang baik dan mengarah pada perbuatan yang brmanfaat.
‘’Dan, bertawakallah kepada Dzat Yang Maha Hidup dan tidak pernah mati’’. (QS. Al-Furqan : 58)
Hal mendasar yang tidak dapat dilupakan dalam mempelajari cara meraih kegembiraan adalah bahwa Anda harus menempatkan kehidupan ini sesuai dengan porsi dan tempatnya. Bagamanapun, kehidupan ini laksana permanan yang harus di waspadai. Pasalnya, ia dapat menyulut kekejihan, kepedihan, dan bencana. Jika demikian halnya sifat-sifat dunia, mengapa harus ia begitu diperhatikan dan ditangisi ketika gagal diraih. Keindahan hidup di dunia ini acap kali palsu, janji-janjinya hanya fatamorgana belaka, apapun yang ia lahirkan senantiasa berakhir pada ketiadaan, orang yang paling bergelimpang dengan hartanya adalah orang yang paling terancam, dan orang yang selalu memuja dan memimpikannya akan mati terbunuh oleh pedang wanktu yang pasti tiba.
Adakah kita generasi yang sama saja dengan moyangnya?
Penghuni negeri yang hanya melihat gagak sepanjang hidupnya,
Hingga kita selalu meratapi dunia, sedang di dunia
Tak ada sekumpulan orang yang tak pernah berpisah
Berapa nasib para durjana, kaisar-kaisar penguasa, dan penimbun harta,
Adakah harta dan jabatan mereka yang kekal dan masih ada di tangan mereka?
Barang siapa merasa terhimpit oleh langit kehidupannya,
Dia aka terus akan merasa sesak sampai masuk ke dalam liang kuburnya
Seakan mereka tuli saat diseru, dan tak pernah tahu bahwa
Menasehati mereka itu boleh, boleh sekali
Dalam sebuah hadits disebutkan: ‘’Sesungguhnya ilmu itu didapat hanya dengan belajar, dan kesabaran itu diperoleh hanya dengan latihan.’’
Satu hal mendasar yang sangat penting diperhatikan adalah bahwa kegembiraan itu tidak akan datang begitu saja. Tapi, harus diusahakan dan dipenuhi segala sesuatu yang yang menjadi persyaratan. Lebih dari itu, untuk mencapai kebahagiaan Anda harus menahan dari hal-hal yang tidak bermanfaat. Begitulah cara menempa jiwa agar seanantiasa siap diajak mencari kebahagiaan.
Kehidupan dunia ini sebenarnya tidak berhak membat kita bermuram durja, pesimis dan lemah semangat. Sebuah syair mengtakan:
Hukum kematian manusia masih terus berlaku,
Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.
Adakalanya seseorang manusia menjadi penyampai berita,
Ia dicipta sebagai makhluk yang senantiasa galau nan gelisah,
Wahai orang yang ingin selalu melawan tabiat,
engkau mengharap percikan api dari genangan air.
Kala engaku mengharap yang mustahil terwujud,
Engkau telah membangun harapan di bibir jurang yang curam.
Kehidupan adala tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan,
Maka manusia diantara keduanya; dalam alam impian dan khayalan
Maka, selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu,
Akan terlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan.
Sigaplah dalam berbuat baik laksana kuda yang masih muda,
Kuasailah waktu, karena ia dapat menjadi sumber petaka
Dan zaman tak akan pernah betah menemani Anda, karena ia Selalu lari  Anda
sebagai musuh yang menakutkan dan karena zaman memang dicipta sebagai musuh
orang-orang bertakwa.
Adalah suatu kenyataan yang tak terelakan bila Anda tidak akan mampu menyapu bersih noda-noda kesedihan dari Anda. Karena bagaimanapun, memang seperti itulah kehidupan dunia tercipta.
‘’Kami telah menciptakan manusia dalam susah payah.’’ (QS. Al-Balad: 4)
‘’Sesungguhnya, Kami menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya.’’ (QS. Al-Insan: 2)
‘’Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.’’ (QS. AL-Mulk: 2)
Demikian penjelasan Sang Pencipta tentang tabiat dan dasar makhluk yang bernama manusia.
Semua itu kenyataan. Maka, Anda hanya berkewajian mengurangi dan bukan menghilangkan kesedihan, kecemasan dan kegundahan pada diri Anda. Sebab, kesedihan itu akan sirna bersama akar-akarnya hanya di surga kelak. Terbukti, dalam Al-Quran disebutkan bahwa para penduduk surga akan ada yang berkata,
‘’Segala puji bagi Allah yang telah menghilangkan duka cita dari kami.’’ (QS. Al-Fatir: 34)
Ini merupakan isyarat bahwa kesedihan hanya akan ampu bersih dari seseorang tatkala ia sudah berada di surga kelak. Dan ini sama halnya dengan nasib kedengkian yang tak akan benar-benar musnah kecuali setelah manusia masuk ke surga.
‘’Dan, Kami lenyapkan segala rasa dendam yang berada di dalam hati mereka.’’ (QS. Al-Hijr: 47)
Inilah dunia. Orang yang mengetahui  apa dan bagaimana dunia, niscaya ia akan dapat menghadapi setiap rintangan dan menyikapi tabiatnya yang kasar dan pengecut itu. Dan kemudian, ia akan menyadari bahwa memang demikanlah sifat dan tabiat dunia itu.
Jika benar dunia seperti yang kita gambarkan di atas, maka sungguh pantas bagi orang yang bijak, cerdik serta waspada untuk tidak mudah menyerah pada kesengsaraan, kesusahan, kecemasan, kegundahan, dan kesedihan dalam hidupnya. Sebaliknya, mereka harus melawan semuanya itu dengan seluruh kekuatan yang telah Allah karuniakan kepadanya.
‘’Dan, siapkanlah untuk mengahdapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu.’’ (QS. Al-Anfal: 60)
‘’Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh).’’ QS. Ali ‘Imran: 146)